IAIDU Asahan dan SEAAM Perkuat Kolaborasi Akademik Global melalui SEA-AFSID 2026

Taiwan, 6 Mei 2026 — Institut Agama Islam Daar Al Uluum (IAIDU) Asahan bersama Southeast Asian Academic Mobility (SEAAM) terus memperkuat kolaborasi akademik global melalui penyelenggaraan Southeast Asia Academic Forum for Sustainable Development (SEA-AFSID) 2026. Forum internasional yang berlangsung sejak akhir April hingga awal Mei 2026 tersebut menjadi ruang kolaborasi akademik lintas negara dalam mendorong pengembangan pendidikan tinggi berkelanjutan di kawasan Asia.
Pada sesi keempat sekaligus penutup yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (6/5/2026) pukul 19.00–20.00 WIB, forum ini diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Asia Tenggara. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan jejaring internasional perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan transformasi digital dan globalisasi pendidikan tinggi.
SEA-AFSID 2026 terselenggara melalui kolaborasi SEAAM bersama sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, yakni: IAIDU Asahan, STIT Sunan Giri Bima, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Universitas Muhammadiyah Barru, STIKES Bina Bangsa Majene, STIES Tunas Palapa Tulang Bawang.
Kolaborasi lintas institusi tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi sekaligus membangun budaya akademik global yang terbuka, kolaboratif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Mengusung tema “East Asia in the Context of Higher Education Development: Japan, Korea, and China Advancement,” webinar menghadirkan akademisi internasional Prof. Dr. Peter John Wanner dari Tohoku University, Jepang, yang juga merupakan Founding President BOLT (Balsamo Outreach for Learning and Teaching). Forum dipandu oleh Lintang Markhamah Watia, M.Pd., dari STES Tunas Palapa Lampung sebagai host, sementara dosen IAIDU Asahan, Abdul Karim Panjaitan, M.Pd., dipercaya menjadi moderator dalam diskusi akademik internasional tersebut.
Dalam pemaparannya, Prof. Wanner menyoroti transformasi pendidikan tinggi di kawasan Asia Timur, khususnya Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan, dan Hong Kong. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) telah mengubah lanskap pendidikan tinggi global secara signifikan, mulai dari sistem pembelajaran, tata kelola universitas, pola kolaborasi riset, hingga model publikasi ilmiah internasional.
Menurutnya, perguruan tinggi masa depan dituntut tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu membangun kolaborasi internasional yang kuat, memperluas mobilitas mahasiswa dan dosen, serta meningkatkan visibilitas akademik di tingkat global. Dalam konteks tersebut, forum internasional seperti SEA-AFSID dinilai memiliki peran strategis sebagai ruang pertukaran gagasan, pengalaman, dan inovasi pendidikan lintas negara.
Prof. Wanner juga memperkenalkan berbagai platform akademik internasional yang dapat dimanfaatkan dosen dan mahasiswa untuk memperkuat kualitas penelitian dan publikasi ilmiah, seperti Springer Nature, Academia.edu, dan UNESCO. Menurutnya, konsep open access telah membuka peluang yang lebih luas bagi perguruan tinggi berkembang untuk terhubung dengan ekosistem akademik global tanpa terkendala keterbatasan geografis maupun finansial.
Ia menekankan pentingnya penguatan literasi publikasi ilmiah, pemanfaatan basis data akademik, serta keterlibatan aktif dalam ekosistem akademik digital guna meningkatkan daya saing institusi pendidikan tinggi. Selain itu, kolaborasi antarperguruan tinggi—baik pada level nasional maupun internasional—dinilai menjadi katalis utama dalam pembangunan pendidikan tinggi yang berkelanjutan.
Menurut Prof. Wanner, kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui webinar internasional, penelitian bersama, konferensi hybrid, pertukaran akademik, hingga pengembangan program pendidikan lintas negara. Ia juga menyoroti pentingnya penerapan prinsip kesetaraan dalam kepemimpinan, termasuk kesetaraan gender, serta penguatan tata kelola institusi yang baik (good governance) sebagai fondasi pendidikan tinggi modern.
Sesi diskusi berlangsung dinamis dan interaktif. Dalam forum tersebut, Kepala BPPM IAIDU Asahan, Eko Priadi, S.H.I., S.H., M.H., mengajukan pertanyaan strategis terkait masa depan publikasi ilmiah di era kecerdasan buatan dan digitalisasi, serta tantangan penguatan visibilitas akademik internasional bagi perguruan tinggi berkembang. Menanggapi hal tersebut, Prof. Wanner menjelaskan bahwa substansi penelitian ilmiah tidak akan berubah secara mendasar, namun sistem publikasi dan dokumentasi akademik akan semakin beralih ke format digital.
Menurutnya, penggunaan jurnal cetak akan terus menurun seiring berkembangnya publikasi elektronik dan sistem open access yang lebih efisien, inklusif, dan mudah diakses oleh komunitas akademik global.
Prof. Wanner juga menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan telah membuka peluang besar bagi perguruan tinggi berkembang untuk membangun reputasi akademik internasional secara lebih efektif dan terjangkau. Ia menilai seminar daring, konferensi hybrid, kuliah tamu internasional, serta kolaborasi akademik berbasis platform digital dapat menjadi strategi realistis dalam memperluas jejaring global tanpa harus bergantung pada sumber daya besar.
“Konferensi online telah membawa perubahan besar dalam dunia akademik dan menjadi sarana penting untuk membangun kolaborasi antara universitas dan peneliti dari berbagai negara,” ujarnya.
Selain membahas perkembangan pendidikan tinggi Asia Timur, Prof. Wanner turut memperkenalkan sejumlah program kolaborasi internasional yang dijalankan melalui organisasi BOLT, di antaranya student summer camp di Jepang, program mobilitas mahasiswa di Malaysia, Thailand, dan Singapura, serta konferensi internasional di Vietnam. Program-program tersebut dinilai dapat menjadi peluang strategis bagi mahasiswa dan dosen Indonesia untuk memperluas pengalaman akademik internasional sekaligus memperkuat kompetensi global.
Sesi keempat SEA-AFSID 2026 juga didampingi langsung oleh Prof. Ismail Suardi Wekke, Ph.D., yang merupakan bagian dari komite pendirian SEAAM sekaligus Komite Saintifik SEA-AFSID. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak lintas institusi dan negara yang telah mendukung terselenggaranya forum akademik internasional tersebut. “Atas dukungan, kerja sama, dan kontribusi dari berbagai pihak lintas institusi dan negara, kami menyampaikan terima kasih,” ujarnya.
Penyelenggaraan SEA-AFSID 2026 diharapkan menjadi langkah strategis dalam mendorong percepatan internasionalisasi dan digitalisasi pendidikan tinggi di kawasan Asia, sekaligus memperkuat hubungan kerja sama antarnegara melalui jalur akademik. Forum internasional ini juga dihadiri ratusan peserta yang terdiri atas peneliti, akademisi, dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa SEA-AFSID 2026 telah berkembang menjadi ruang akademik yang inklusif dalam memperkuat kolaborasi, pertukaran gagasan, dan pengembangan pendidikan tinggi di tingkat global.