Soroti Krisis Bahasa dan Human Security di Era Globalisasi dan AI, IAIDU Ambil Peran dalam SEA-AFSID 2026

Jakarta, 5 Mei 2026 — Di tengah derasnya arus globalisasi dan percepatan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), ancaman terhadap keberlangsungan bahasa dan identitas budaya masyarakat dunia semakin menjadi perhatian komunitas akademik internasional. Isu tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam forum Southeast Asia Academic Forum for Sustainable Development (SEA-AFSID) 2026 yang diikuti Institut Agama Islam Daar Al Uluum (IAIDU) Asahan bersama akademisi dari berbagai negara Asia Tenggara.
Forum internasional yang digagas oleh Southeast Asian Academic Mobility (SEAAM) tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa (5/5/2026) pukul 14.00–16.00 WIB. Kegiatan ini menjadi sesi pembuka dari rangkaian empat forum akademik internasional yang dijadwalkan berlangsung hingga 6 Mei 2026.
SEA-AFSID 2026 terselenggara melalui kolaborasi sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, yakni STIT Sunan Giri Bima, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Universitas Muhammadiyah Barru, STIKES Bina Bangsa Majene, STIES Tunas Palapa Tulang Bawang, serta IAIDU Asahan. Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, dan praktisi pendidikan dari berbagai negara untuk mendiskusikan isu-isu strategis terkait pendidikan, pembangunan berkelanjutan, transformasi sosial, hingga tantangan kemanusiaan global di era digital.
Pada sesi pertama, forum mengangkat tema “Language Teaching, Endangered and Human Security”, yang membahas keterkaitan antara pengajaran bahasa, ancaman kepunahan bahasa, dan konsep human security atau keamanan manusia dalam konteks globalisasi kontemporer. Tema tersebut dinilai semakin relevan di tengah dominasi teknologi digital dan AI yang secara perlahan turut memengaruhi keberlangsungan bahasa lokal, identitas budaya, serta pola interaksi sosial masyarakat dunia.
Pembicara utama, Prof. Dr. Peter John Wanner, akademisi dari Tohoku University Jepang sekaligus Founding President BOLT, menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian penting dari identitas, martabat, dan keberlangsungan suatu komunitas. Menurutnya, hilangnya bahasa bukan hanya persoalan linguistik, tetapi juga berkaitan erat dengan hilangnya pengetahuan lokal, budaya, serta hak-hak sosial masyarakat yang menggunakannya.
“Bahasa merupakan bagian dari martabat manusia. Ketika bahasa terancam hilang, maka identitas budaya dan hak sosial masyarakat juga ikut terancam,” ujar Prof. Peter dalam forum internasional tersebut.
Ia menjelaskan bahwa konsep human security mencakup dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar keamanan fisik. Keamanan manusia juga berkaitan dengan aspek ekonomi, kesehatan, lingkungan, pangan, komunitas sosial, hingga kebebasan politik dan budaya. Dalam konteks itu, pendidikan bahasa memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat yang inklusif, toleran, dan berkeadaban di tengah perubahan global yang semakin kompleks.
Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif dengan dipandu oleh Iin Irliana, M.Pd., dosen STIT Sunan Giri Bima selaku moderator. Peserta dari berbagai negara tampak aktif menyampaikan pandangan, pertanyaan, dan pengalaman akademik terkait tantangan pelestarian bahasa serta pembangunan pendidikan humanis di era digital dan AI.
Keterlibatan IAIDU Asahan dalam SEA-AFSID 2026 menjadi bagian dari langkah strategis institusi dalam memperluas jejaring akademik internasional sekaligus memperkuat budaya akademik yang adaptif terhadap perkembangan global. Partisipasi tersebut juga mencerminkan komitmen IAIDU dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi dan penguatan kolaborasi lintas negara.
Selain mengikuti forum internasional, IAIDU turut mengambil bagian dalam mendukung penyelenggaraan kegiatan bersama kampus-kampus mitra lainnya. Kehadiran IAIDU dalam forum ini diharapkan dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas di bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, pertukaran akademik, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Dalam konteks transformasi pendidikan global, forum seperti SEA-AFSID dinilai penting sebagai ruang pertukaran gagasan dan inovasi antar-akademisi lintas negara untuk merumuskan pendekatan pendidikan yang lebih inklusif, humanis, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Kegiatan SEA-AFSID 2026 juga mendapat pendampingan dari Prof. Ismail Suardi Wekke, Ph.D., bagian dari komite pendirian SEAAM sekaligus Komite Saintifik SEA-AFSID. Ia menilai kolaborasi antarperguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih progresif dan berdaya saing global.
“Kolaborasi lintas perguruan tinggi dan lintas negara merupakan fondasi penting dalam membangun pendidikan tinggi Asia Tenggara yang inklusif, adaptif, dan kompetitif di tingkat global,” ujarnya.
SEA-AFSID 2026 diikuti peserta dari berbagai negara Asia Tenggara, antara lain Indonesia, Singapura, Filipina, dan Taiwan. Melalui forum ini, SEAAM bersama seluruh institusi mitra berharap dapat memperkuat sinergi regional dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang kolaboratif, berkelanjutan, dan responsif terhadap tantangan global masa depan.