Refleksi HUT ke-81 RI, IAIDU Asahan bersama Asosiasi DKLPT dan ISNU Pidie Gelar Seminar Nasional Kebangsaan

KISARAN, SUMATERA UTARA — Institut Agama Islam Daar Al Uluum (IAIDU) Asahan bersama Asosiasi Dosen Kolaborasi Lintas Perguruan Tinggi (DKLPT) dan Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Pidie menggelar Seminar Nasional Kebangsaan 2026 sebagai refleksi atas 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Seminar daring yang berlangsung dua hari, Ahad–Senin (23–24/8/2026), itu menghadirkan 18 pembicara dari 14 perguruan tinggi dan lembaga, membentang dari Aceh hingga Sulawesi.
Mengusung tema “Dari Kemerdekaan Menuju Indonesia Emas: Kolaborasi Anak Bangsa untuk Negeri”, forum tersebut menempatkan satu pertanyaan reflektif sebagai titik tolak: setelah 81 tahun merdeka, Indonesia seperti apa yang hendak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebagai tuan rumah, IAIDU Asahan menurunkan kontingen terbesar dalam forum ini, yakni enam pembicara dan seorang moderator. Mereka terdiri atas rektor, dua wakil rektor, tiga dekan, dan seorang ketua program studi.
Rektor IAIDU Asahan Assoc. Prof. Dr. Hj. Nilasari Siagian, S.H., S.Pd.I., M.H., yang membawakan keynote speech pada hari kedua, menjawab pertanyaan itu dengan menegaskan bahwa kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan amanah yang harus dijaga, diisi, dan diwariskan dalam keadaan yang lebih baik.
“Kita tidak lagi berjuang merebut kemerdekaan. Tetapi kita sedang berjuang mengisi kemerdekaan.”
— Assoc. Prof. Dr. Hj. Nilasari Siagian, Rektor IAIDU Asahan
Menurut Nilasari, bangsa Indonesia tidak cukup hanya mewariskan kemajuan ekonomi. Yang hendak diwariskan, katanya, adalah Indonesia yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, kuat dalam karakter, adil dalam kehidupan sosial, kokoh dalam persatuan, serta bermartabat dalam pergaulan dunia.
Kolaborasi
Dari refleksi itu, Nilasari menarik satu kata kunci yang menjadi tema seminar, yakni kolaborasi. Ia menilai kolaborasi tidak boleh dimaknai sesempit bekerja bersama, melainkan kemampuan menyatukan berbagai kekuatan, keahlian, pengalaman, dan sumber daya untuk menghasilkan dampak yang lebih besar.
Ia memetakan pembagian peran. Perguruan tinggi memiliki ilmu pengetahuan, pemerintah memiliki kebijakan, dunia usaha memiliki sumber daya dan inovasi, masyarakat memiliki kearifan lokal, organisasi kemasyarakatan memiliki jaringan sosial, sedangkan generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan keberanian melakukan perubahan.
“Kolaborasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis bangsa.”
— Assoc. Prof. Dr. Hj. Nilasari Siagian, Rektor IAIDU Asahan
Tantangan zaman
Nilasari memerinci persoalan kebangsaan yang menurutnya tidak dapat diselesaikan secara terpisah, yaitu disinformasi, polarisasi sosial, krisis literasi, kesenjangan pendidikan, persoalan ekonomi, serta perubahan karakter generasi muda. Semua itu berkelindan dengan percepatan kecerdasan buatan dan transformasi digital yang mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, hingga mengambil keputusan.
“Semua itu tidak mungkin diselesaikan oleh satu perguruan tinggi, tidak mungkin diselesaikan oleh satu kementerian, tidak mungkin diselesaikan oleh satu organisasi, dan bahkan tidak mungkin diselesaikan oleh satu generasi,” katanya.
Ia menawarkan lima bidang kolaborasi yang harus dibangun perguruan tinggi:
1. Penelitian yang menghasilkan solusi, bukan sekadar publikasi;
2. Pengabdian kepada masyarakat, agar ilmu turun dari ruang akademik dan memberi manfaat nyata;
3. Pengembangan mahasiswa lintas kampus, lintas disiplin, lintas daerah, hingga lintas negara;
4. Publikasi dan pengembangan pengetahuan melalui ekosistem akademik yang saling menguatkan;
5. Pembangunan masyarakat yang berkarakter dan berdaya saing.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Perguruan tinggi harus menjadi pusat pengetahuan, pusat inovasi, pusat pemberdayaan masyarakat, sekaligus pusat pembentukan karakter bangsa,” ujarnya.
Ukuran keberhasilan kampus, lanjut Nilasari, bukan semata jumlah lulusan, melainkan besarnya manfaat yang diberikan, luasnya jejaring yang dibangun, dan kontribusinya bagi kemajuan bangsa. Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam, ia menambahkan, IAIDU Asahan meyakini kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan seiring nilai moral dan spiritual.
“Kecerdasan buatan harus digunakan untuk membantu manusia, bukan menggantikan nilai kemanusiaan. Digitalisasi harus memperluas akses pendidikan, bukan memperlebar kesenjangan.”
— Assoc. Prof. Dr. Hj. Nilasari Siagian, Rektor IAIDU Asahan
Karena itu, katanya, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya smart, tetapi juga wise; bukan hanya cerdas, tetapi juga bijaksana; bukan hanya kompeten, tetapi juga berintegritas. Kepada mahasiswa, ia berpesan agar tidak menunda kontribusi. “Indonesia tidak membutuhkan generasi yang hanya menjadi penonton. Indonesia membutuhkan generasi yang menjadi pelaku perubahan,” ucapnya.
Lintas kampus
Pada hari pertama, Ahad (23/8/2026), seminar dibuka dengan keynote speech Sekretaris Jenderal Asosiasi DKLPT Dr. Karimuddin Abdullah Lawang, S.H.I., M.A., dari Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia. Laporan panitia disampaikan Ketua Umum Asosiasi DKLPT Dr. Nanda Saputra, M.Pd., disusul sambutan PC ISNU Kabupaten Pidie oleh Muhammad Syawal Djamil, S.Pd., M.Pd. Sesi dipandu moderator Riazul Iqbal, S.Pd.I., Gr., M.Si.
Narasumber pembuka adalah Kepala Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat Brigjen TNI Teddy Arifiyanto S., S.I.P., M.M., M.Han., disusul Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia yang juga Dewan Pembina Asosiasi DKLPT, Prof. Dr. Isah Cahyani, M.Pd.
Dari IAIDU Asahan, hari pertama diisi Wakil Rektor II Dr. Drs. Surono ZR, M.M.L.S., Dekan Fakultas Syariah Dr. H. Syahrul, S.H.I., M.A., serta Dekan Fakultas Dakwah Dr. H. Lakum, S.Ag., M.Sos. Tiga narasumber lain berasal dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Muslim Indonesia Makassar, dan STAI Poso.
Hari kedua dibuka moderator Wulan Sari, S.Pd.I., M.Pd., Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIDU Asahan, dengan keynote speech Ketua Umum Asosiasi DKLPT dan Rektor IAIDU Asahan. Sambutan disampaikan Direktur Penerbitan Buku Asosiasi DKLPT Dr. Ria Candra Dewi, M.Pd. dari Politeknik Tegal Baja. Sesi dilanjutkan dengan foto bersama dan penyerahan sertifikat penghargaan secara simbolis.
Tujuh narasumber tampil pada hari itu, dua di antaranya dari tuan rumah, yakni Wakil Rektor I Dr. Saiful Ahyar, S.Ag., M.A. dan Dekan Fakultas Tarbiyah Dr. H. Zainal Abidin, S.Ag., M.M. Lima lainnya berasal dari STAI Minhaajurrosyidin, Institut Agama Islam Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Universitas Indonesia Maju, dan STIE Sultan Agung.
Bunga rampai
Di luar sesi utama, panitia menggelar presentasi makalah paralel selama dua jam pada sore hari di kedua hari pelaksanaan. Seluruh gagasan pemakalah dibukukan dalam bunga rampai berjudul “Merawat Kemerdekaan, Menjemput Indonesia Emas: Gagasan dan Kolaborasi Anak Bangsa untuk Negeri”, yang diterbitkan dengan indeksasi Google Scholar dan SINTA.
Panitia membuka dua skema keikutsertaan. Peserta dikenakan biaya registrasi Rp45.000 dengan fasilitas sertifikat ber-jam pelajaran dan rekaman materi. Pemakalah dikenakan Rp125.000 dengan tambahan sertifikat pemakalah, publikasi book chapter, berkas PDF buku, serta sertifikat penulis buku.
Sepuluh subtema dikembangkan dalam forum, antara lain penguatan wawasan kebangsaan, peran pendidikan tinggi dalam mencetak sumber daya manusia unggul, moderasi beragama sebagai fondasi persatuan, transformasi digital, pendidikan karakter dan penguatan nilai-nilai Pancasila, serta kebinekaan dan toleransi.
Dari forum ke gerakan
Seminar ditutup dengan perumusan rekomendasi kebangsaan. Ketiga lembaga penyelenggara sepakat menindaklanjuti forum ini dengan kerja sama akademik lanjutan di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, serta penyelenggaraan seminar dan konferensi bersama.
Menutup keynote-nya, Nilasari mengingatkan agar forum tidak berhenti sebagai ajang bertukar pikiran. “Jangan sampai setelah acara ini selesai, gagasan-gagasan yang muncul juga ikut selesai,” katanya. Ia mengajak peserta menjadikan seminar tersebut sebagai titik awal sebuah gerakan kolaborasi.
“Kemerdekaan adalah warisan para pejuang. Indonesia Emas adalah tanggung jawab generasi kita. Dan kolaborasi adalah jalan untuk mewujudkannya.”
— Assoc. Prof. Dr. Hj. Nilasari Siagian, Rektor IAIDU Asahan